Studi ini muncul dalam jurnal PLoS ONE
10 Januari 2012 yang mempertanyakan studi tahun 2009 yang
mendokumentasikan tidak adanya cakar penggaruk dalam spesies primata
primitif lainnya yang dikatakan berhubungan dengan leluhur kera, monyet,
dan manusia.
Peneliti studi
Jonathan Bloch, asisten curator paleontology vertebrata di Museum
Sejarah Alam Florida di kampus UF, mengatakan kalau primate berusia 47
juta tahun, Notharctus tenebrosus, jelas memiliki cakar penggaruk di jari keduanya. Mengejutkannya, cakar ini mendatar mirip seperti kuku.
”Notharctus
mungkin member bukti kalau kuku berkembang dalam kelompok primata ini,
atau ia dapat memberi tahu kita kalau cakar berkembang dari kuku dalam
kelompok ini, yang akan membuat mereka lebih mirip lemur,” kata Bloch.
Penulis
utama, Stephanie Maiolino, seorang mahasiswa pasca sarjana antropologi
di Universitas Stony Brook, mengatakan kalau keberadaan atau ketiadaan
cakar penggaruk sebelumnya digunakan untuk mengklasifikasikan kelompok
primata: manusia, kera, dan monyet memiliki kuku, sementara lemur
memiliki cakar penggaruk di jari keduanya.
“Namun
tidak jelas kalau ketiadaan cakar penggaruk berarti sebuah spesies
berkaitan dengan anthropoid, yaitu kelompok primata yang mencakup kera,
manusia, dan monyet,” kata Maiolino, yang mempelajari primata selama
enam tahun saat mengerjakan disertasi doktoralnya.
Tulang
jari kaki yang disebutkan dalam studi baru ini memiliki tampilan mirip
cakar di dekat dasarnya, namun ujungnya lebih datar, lebih mirip kuku
monyet modern.
Penulis lain, Doug
Boyer, asisten professor antropologi fisik dari Brooklyn College New
York, mengatakan kalau primata ini “dalam proses mengevolusikan sebuah
kuku dan menjadi lebih mirip manusia, kera dan monyet, atau dalam proses
mengevolusikan cakar lebih mirip lemur.”
“Saya
sekarang percaya kalau lebih mungkin kuku tersebut adalah titik awal
dan cakar penggaruknya berkembang sebagai sifat fungsional,” kata Boyer.
Penemuan ini memunculkan pertanyaan mengenai studi tahun 2009 yang menjelaskan spesies primate punah Darwinius masillae, yang diklasifikasikan dalam kelompok primate punah sejenis sebagai Notharctus.
Darwinius
sebelumnya ditafsirkan memiliki kuku di jari keduanya bukannya cakar
penggaruk, yang membuat para peneliti berhipotesis kalau primate purba
dan kelompoknya lebih dekat berkaitan dengan monyet, kera dan manusia
ketimbang lemur.
Wighart Von
Koenigswald, professor paleontology di Universitas Bonn di Jerman dan
salah satu penulis dalam studi tahun 2009 mengatakan kalau ia tidak
setuju dengan beberapa temuan pada studi saat ini, dan penelitian yang
lebih barunya pada Darwinius dan taksa terkait menunjukkan kalau Darwinius juga mungkin memiliki cakar penggaruk seperti lemur.
“Saya
tidak tahu apakah ia bisa disebut lemuroid yang memunculkan transisi
cakar penggaruk,” kata Von Koenigswald. “Ada sejumlah detail yang
saya setuju dalam laporan terakhir dan analisis kladistik.”
Boyer
mengatakan kalau studi saat ini “menunjukkan tanpa keraguan kalau
bentuk jari paling jelas dinyatakan sebagai bentuk perantara,” namun
menunjuk kalau makalahnya sesungguhnya tidak pasti mengenai tipe
transisi evolusi apa yang ditunjukkan.
Dalam studi terbaru ini, para peneliti juga membandingkan anatomi dua primate punah, Darwinius dan Notharctus,
dengan primate fosil dan hidup yang diketahui untuk menentukan hubungan
mereka dalam pohon keluarga. Setelah memeriksa data, baik dengan atau
tanpa informasi tentang cakar penggaruk, perbandingan menunjukkan kalau
kedua primate purba lebih dekat berhubungan dengan lemur daripada
monyet, kera, dan manusia.
Studi ini
didanai sebagian oleh National Science Foundation dan Brooklyn College
of the City University New York. Peneliti lain antara lain Christopher
C. Gilbert dari Hunter College di City University New York dan Joseph
Groenke dari Stony Brook University.
Sumber berita:
Referensi jurnal:
Stephanie Maiolino, Doug M. Boyer, Jonathan I. Bloch, Christopher C. Gilbert, Joseph Groenke. Evidence for a Grooming Claw in a North American Adapiform Primate: Implications for Anthropoid Origins. PLoS ONE, 2012; 7 (1): e29135 DOI: 10.1371/journal.pone.0029135
Tidak ada komentar:
Posting Komentar